Hal Penting untuk Pengambilan Gambar (Cameramen)

 
1. Gambar goyang

Gambar yang goyang umumnya tidak dikehendaki dan bisa memusingkan pemirsa, gambar semacam ini dihasilkan dari shooting video dengan pegangan tangan pada kamera (grip) yang salah dan belum bagusnya pengaturan nafas.


Solusi nya adalah : gunakan triphod yang kokoh saat shooting video, pelajari cara penyetelan triphod termasuk rodanya jika perlu agar Anda tetap bisa bergerak dinamis mengikuti keperluan pengambilan gambar, jika Anda memegang kamera dengan tangan maka ikuti tips berikut ini : sandarkan tubuh pada sesuatu yang kokoh, rapatkan pegangan kamera ketubuh lalu atur nafas dengan baik, lebih baik lagi jika menyandarkan kamera pada sesuatu yang kokoh misalnya meja.



2. Terlalu banyak zoom

Gambar zoom tidak baik karena detil obyek sulit tertangkap, fokus menjadi sulit disesuaikan (entah manual atau auto fokus) dan gambar menjadi mudah goyang. Padahal sebailknya, gambar close-up yang diambil dari dekat akan memiliki daya tarik yang kuat pada shooting video yang dihasilkan. Kebanyakan kameramen amatir menggunakan fasilitas zoom karena alasan berikut : senang memainkan fitur unik ini, ketinggalan obyek, yaitu obyek shooting yang dianggap penting berada jauh dari posisi kameramen, malu atau malas mendekati obyek, misalnya ada wanita cantik peserta acara yang bagus untuk di-shooting namun kameramen merasa malu untuk mengambil shooting dari dekat untuk mengambil gambar close-up, berdalih mengambil candid camera.



Sebaik nya pikirkan matang-matang obyek yang hendak di-shooting (sekali lagi, idealnya telah dirumuskan dalam suatu skenario) dalam peliputan suatu acara, mintalah lebih dulu jadwal acara lantas dipelajari, sambil terus berkonsultasi dengan panitia acara, harus melatih kepercayaan diri untuk biasa tampil hilir mudik di muka umum, demi mendapatkan angle yang baik, untuk kebanyakan kasus, dapat dipikirkan alternatif yang lebih baik daripada mendapatkan gambar candid camera yang buruk karena diambil dengan zoom.
3. Terlalu banyak pan
Pan ialah pergerakan kamera horisontal ke kiri atau ke kanan yang dilakukan seorang kameramen ketika hendak mengambil gambar keadaan sekeliling. Berbeda dengan pan lembut yang dapat menambah dinamis gambar, pan yang cepat akan memusingkan pemirsa, juga gambar yang dihasilkan kurang tajam (karena kamera bingung dengan penyesuaian fokus). Kebanyakan kameramen amatir sering menggunakan pan yang berlebihan karena : ingin menyampaikan selengkap mungkin informasi melalui gambarnya, tanpa didahului perencanaan pengambilan gambar, tapi ia justru bingung gambar apa yang hendak diambil dengan kamera videonya. Solusi nya iyalah : biasakan menulis rencana shooting sambil memaknai apa yang hendak disampaikan dengan obyek/kegiatan yang akan di-shooting tersebut. sesuai dengan rencana shooting, persiapkan diri dengan baik untuk bertugas di tempat shooting, jika mungkin pelajari lebih dulu angle-angle yang baik dan mungkin untuk di ambil.
4. Gambar tidak fokus (blur)
Kameramen amatir diasumsikan menggunakan kamera dengan setting auto fokus, namun seringkali ada saat-saat hasil shooting video gagal untuk fokus. Ini sering disebabkan pergerakan kamera (pan) yang terlalu cepat, padahal fitur auto fokus kamera kadang membutuhkan waktu sepersekian detik untuk mengenali fokus obyek. Sebab lainnya yaitu jarak pengambilan gambar yang jauh (long shot) sehingga banyak obyek yang ada di frame yang berada pada jarak yang berbeda-beda sehingga kamera kesulitan menentukan fokus. Solusi nya adalah : kurangi pan, biasakan untuk mendekati obyek sebelum mengambil gambarnya, sehingga bisa mendapatkan gambar close-up atau setidaknya medium-shot, yang dapat menghasilkan detil obyek yang lebih baik.
5. Salah pencahayaan
Kemampuan seorang kameramen menggunakan cahaya baik alam maupun buatan akan merupakan penentu keunggulannya. Kameramen amatir (dengan asumsi menggunakan kamera video auto) biasanya sering salah pada backlight, yaitu pengambilan gambar pada angle yang melawan sumber cahaya, kontras terlalu tinggi, misalnya di ruang terbuka mengambil gambar orang yang berkulit gelap dengan background langit putih. Solusi nya iyalah : jika backlight tak terhindarkan (tak ada pilihan angle yang lain) maka jangan lupa untuk meng'aktifkan fitur backlight pada kamera video, pengambilan angle yang dekat (medium-shoot, close-up bahkan extreme close-up) dapat mengurangi kontras warna yang tertangkan oleh lensa kamera video.
6. Framing
Kebanyakan kameramen amatir selalu menempatkan obyeknya di tengah frame kamera. Padahal idealnya, framing ini mengikuti Kaidah Sepertiga Rules of Third sebagaimana yang juga dikenal dalam dunia fotografi, kaidah ini menyebutkan bahwa jika layar kamera dibagi tiga (baik secara vertikal maupun horisontal), maka obyek harus berada di garis-garis pertemuannya (jadi bukan di tengah, tapi menyamping), jika demikian maka ada ruang obyek dan ruang kosong, ruang kosong ini bisa diisi dengan background penunjang yang menarik. Untuk framing adegan wawancara atau pun monolog dimana pada layar tampil seorang yang berbicara di depan kamera serong ke samping, maka arah serong-nya ialah menghadap ke bidang kosong tersebut.
7. Sudut pengambilan gambar (angle)
Kebanyakan kameramen amatir juga sering mengambil gambar terlalu jauh, yaitu Medium Shot (MS) atau bahkan Long Shot (LS), padahal pada angle kamera ini detil obyek tidak tertangkap jelas. Pada sejumlah produk home video seperti wedding video, video liputan acara, video ulang tahun dan lain-lain, potensi daya tarik terbesar ialah emosi/ekspresi manusia yang terpancar dari wajah-wajah para pelaku peristiwa, karena itu disarankan untuk banyak melakukan eksperimen soal angle kamera, terutama memberanikan diri untuk mengambil angle Close Up dan Extreme Close Up.

Sumber : http://azie-zp.blogspot.com/

 

Merekam Video agar Enak Ditonton

Apa yang bisa kita lakukan dengan sebuah kamera video dalam genggaman? Umumnya, hanya ada 2 hal mengapa kita membutuhkan dan menggunakan kamera video. Pertama, mengabadikan sesuatu. Dan yang kedua, menciptakan sesuatu. Lalu, apa yang bisa diabadikan dan apa yang bisa diciptakan? Peluang dan kesempatan untuk ini hampir-hampir tanpa batas. Yang membatasi hanyalah kebutuhan, kreatifitas dan kesenggangan.

Dengan kamera video, kita bisa merekam dan mengabadikan beragam peristiwa dan adegan dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi dan berlangsung di sekitar kita. Tidak harus peristiwa yang sangat penting atau menarik. Mengabadikan berarti menyimpan sesuatu pada saat ini, untuk dipergunakan atau dinikmati pada suatu saat nanti. Entah esok hari, lusa, atau puluhan tahun lagi. Peristiwa dan adegan biasa-biasa saja yang terjadi pada hari ini, mungkin akan menjadi sangat penting dan menarik pada suatu saat nanti.

Dengan kamera video, kita juga bisa menciptakan beragam karya videografi untuk mengekspresikan kreatifitas, perasaan dan beragam gagasan, serta menciptakan beragam media komunikasi yang akan membantu beragam tujuan kita pada berinteraksi dengan orang lain. Dari sebuah karya dan program videografi yang kreatif dan komunikatif, kita bisa bercerita, berbagi informasi, menghibur, menularkan pengetahuan, bahkan mempengaruhi orang lain.

Masalahnya adalah bagaimana menciptakan karya dan program videografi atau minimal rekaman video yang sempurna dan layak ditonton ? Apapun jenis kamera yang Anda pergunakan, langkah dan tahapan-tahapan berikut ini akan membantu menyempurnakan dan memperbaiki hasil rekaman video Anda, sekaligus meningkatkan pemahaman serta ketrampilan dalam menggunakan teknologi dan media videografi secara kreatif dan komunikatif dan bercitarasa profesional.

Level 1 : Kenali dan Pahami Kamera Video Anda.
Tentu Anda tidak akan mampu menciptakan rekaman apapun, jika tidak mengenal dan memahami cara kerja piranti yang Anda gunakan. Cara menguasai pengoperasian kamera bisa dikatakan sangat mudah. Setiap kamera video di masa kini sudah diciptakan sedemikian rupa otomatisnya, hingga seorang anak TK-pun bisa segera memahami dan melakukannya dalam hitungan menit.

Perlu dicatat, meski kamera setiap jenis kamera dilengkapi dengan berbagai fasilitas, namun tidak semua fasilitas yang ada harus digunakan. Letak tombol dan menu untuk setiap jenis kamera mungkin berbeda, tetapi pada umumnya fungsi sama.

Level 2 : Rekaman Video yang Layak Dilihat dan Disimpan
Rekaman video dikatakan layak untuk dilihat dan disimpan jika memenuhi 4 syarat : cukup pencahayaan, fokus, stabil dan cukup durasi. Syarat-syarat ini hanya bisa diabaikan jika rekaman video tersebut memiliki nilai tertentu (penting dan/atau menarik) atau mengabadikan peristiwa atau adegan yang istimewa dalam kondisi darurat. Jika tidak terlalu istimewa, maka rekaman video yang tidak memenuhi syarat tersebut bisa dikatakan tidak layak dilihat atau disimpan.

Level 3 : Rekaman Video yang Layak Dinikmati
Sebagaimana fotografi, dunia videografi juga memiliki kaidah-kaidah baku yang berkaitan dengan komposisi dan penataan subyek dalam bingkai gambar (frame). Kaidah-kaidah ini menjadi semacam gramatika tersendiri dalam komunikasi antara videografer dengan penonton karya-karyanya. Dalam proses produksi, kaidah-kaidah ini juga menjadi acuan kesepahaman antara seorang produser, sutradara, penulis naskah, kameraman, dll. Sebuah rekaman video dikatakan layak untuk dinikmati jika disajikan dengan mengikuti kaidah-kaidah baku dalam dunia videografi, yang secara umum tidak berbeda jauh dengan yang berlaku dalam dunia fotografi.

  • Balance, Framing, Compositions : Horizontal Lines, Vertical Lines, Thirds Ratio, Diagonal Lines, Triangle, Perspective, Looking Room, Walking Room, Head Room, Golden Mean, Background, Foreground.
  • Frame Cutting Points : Extreme Close Up, Big Close Up, Close Up, Medium Close Up, Medium Shot, Medium Long Song, Long Shot, Extreme Long Shot.
  • Other Types Of Shot : 2 Shot, 3 Shot, Group Shot, Over Shoulder Shot, Establishing Shot.
  • Camera Movement : Panning (Left, Right, Up, Down), Tracking (In, Out, Follow, Revolve), Truck (Left, Right), Zooming (In, Out)
  • Camera Angle # 1 : Normal Angle, Low Angle, High Angle
  • Camera Angle # 2 : Objective Camera, Subjective Camera
  • Shot By Camera Positions : Face Shot, ¾ Shot, Profile Shot, Over Shoulder Shot
  • Shooting Rules : Jump Cut, Crossing The Line, Continuity
Level 4 : Rekaman Video yang Selesai dan Layak Tonton
Bertumpuk-tumpuk kaset video, berjam-jam durasi rekaman video, biasanya hanya tersimpan dalam almari dan lambat namun pasti berubah menjadi sampah. Rekaman video mentah (stock shot atau master shot) seperti ini tidak menarik untuk dinikmati, karena siapapun cenderung malas untuk menikmatinya (termasuk kameramannya sendiri).

Rekaman video yang layak untuk ditonton adalah rekaman video yang selesai dan tersaji dalam wujud karya videografi yang siap dipertontonkan. Ditonton, adalah hakekat penciptakan sebuah karya atau program videografi. Tidak berbeda dengan seorang pelukis yang telah membingkai lukisannya dan memajang di dinding atau panel galeri. Tak beda juga dengan seseorang yang menyanyi di depan orang lain atau di panggung, bukan lagi di kamar mandi.

Sebagai sebuah pertunjukan, karya videografi yang siap dipertontonkan disajikan dengan kaidah logis sebuah proses penyajian. Ada awalan atau pembuka, dilanjutkan dengan isi atau materi inti dan diakhiri dengan sajian penutup. Rangkaian ini secara keseluruhan memberi informasi kepada penonton tentang apa yang sedang ditontonnya.

Dalam format sajian yang paling sederhana, sebuah judul di bagian depan, rangkaian gambar yang tersusun pada batang tubuhnya dan credit title yang muncul pada bagian akhir, sudah bisa memberikan status selesai dan siap tonton pada sebuah rekaman video. Selebihnya adalah masalah kreatifitas sesuai dengan kebutuhan dan tujuan produksi karya videografi tersebut.

Sebuah karya videografi yang selesai dan siap ditonton umumnya melewati tahap-tahap berikut ini:

  • Pra Produksi : Proses perencanaan dan persiapan produksi sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan khalayak sasaran yang dituju. Meliputi persiapan fasilitas dan teknik produksi, mekanisme operasional dan desain kreatif ( riset, penulisan outline, skenario, storyboard, dsb.).
  • Produksi : Proses pengambilan gambar di lapangan (shooting).
  • Pasca Produksi : Proses penyuntingan di ruang editing, memadukan hasil rekaman video dengan berbagai elemen audio visual lainnya.
  • Presentasi : Menyajikan hasil penyuntingan (editing) dalam format siap tonton (kaset, VCD, DVD, dsb.)
  • Distribusi : Penyebarluasan karya videografi (screening, penjualan, broadcasting, webcasting, dsb.).

Sumber : http://azie-zp.blogspot.com

 

Cara Mengoperasikan Kamera

Camera video ada berbagai macam merk, bentuk, dan varian.
Begitu juga media penyimpanan gambar juga bermacam-macam.
Contoh-contoh merk terkenal antara lain: Sony, Canon, Panasonic, JVC dan lain-lain.
Dari berbagai merk tersebut masing-masing mempunyai beragam varian dan bentuk.
Mulai kamera amatir, semi profesional, dan kamera profesional.
Media penyimpanan gambar antara lain :
Betacam, Dvcam, Dvc-pro, MiniDV, maupun berbentuk card (kartu memori).

Bagi pengguna pemula/amatir biasa nya dengan mode auto sudah cukup untuk mendapatkan gambar standar, tatapi dalam kondisi tertentu mode auto tidak bisa kita pakai untuk mendapatkan gambar sesuai dengan kemauan kita, itu lah sebabnya kenapa para Cameraman profesional sering menggunakan mode manual dalam mengoperasikan kamera.

The Main Control, Ada enam control dasar pada kamera:

1. Exposure
(Aperture, Shutter Speed, ND Filter, Gain)
2. Filter Colour
3. White Balance
4. Zoom
5. Focus
6. Audio Levels

1. Exposure :
Eksposure secara sederhana dapat saya artikan sebagai pencahayaan kamera. Untuk mendapatkan gambar yang normal, tidak gelap (under exposure) dan tidak sangat terang (over exposure) harus diperhatikan:

*Aperture (diafragma)
Di kamera televisi disebut juga Iris, yaitu sejumlah lembaran metal tipis yang disusun sedemikian rupa sehingga bisa dibuka dan ditutup untuk mengatur banyaknya sinar yang masuk ke lensa kamera. Iris seperti pupil mata kita yang bisa membesar dan mengecil sesuai cahaya yang masuk. Bila Iris dibuka selebar mungkin, lensa mengirim sinar maksimum de dalam kamera, sebaliknya kalau bukaan iris dikurangi lubang diafragma akan menyempit, sehingga sinar yang masuk ke kamera jadi sedikit. Bukaan diafragma diukur dalam satuan f-stop: f/1.4 – f/22. lebih kecil nomor f-stop = bukaan diafragma besar, lebih besar nomor f-stop = bukaan diafragma kecil. Pengaturan iris secara manual dapat dilakukan dengan memutar ring iris di lensa kamera.
*Shutter Speed
Biasanya shutter speed standar di kamera televisi 1/50. kecuali anda ingin menggunakan efek shutter atau untuk mensinkronkan dengan objek, baru Shutter Speed di posisi ON untuk selanjutnya bisa kita pilih sesuai tujuan kita.
*ND Filter
Filter ND (Neutral Density) berfungsi untuk mengurangi intensitas sinar yang terlalu kuat tanpa mempengaruhi kualitas warna cahaya. Filter ini digunakan bila kondisi cahaya terlalu keras, seperti tengah hari yang terik.
*Gain
Kebalikan dari ND filter, Gain berfungsi apabila pengambilan gambar dalam keadaan kurang cahaya, yang apabila dengan keadaan normal dengan bukaan f-stop maksimal (f/1.4) masih under exposure. Dengan Gain kita bisa mengangkat exposure secara digital, konsekuensinya gambar menjadi agak coral (pecah).

2. Filter Colour :
Berfungsi untuk mengubah atau mencocokkan cahaya yang masuk ke dalam kamera. Umumnya kamera video memiliki dua buah filter koreksi warna. Untuk shoting di dalam ruangan dengan cahaya lampu tungsten (kemerahan) kita pasang filter 3200ºK dan untuk shoting dengan penerangan cahaya matahari kita gunakan filter 5600ºK.

Cahaya matahari banyak mengandung warna biru. Kalau kita memasang filter no.2 (5600ºK) untuk matahari, sebenarnya kita memasang filter berwarna oranye untuk mengimbangi warna biru pada matahari. Cahaya lampu bohlam lebih mengandung warna merah, maka kita pasang filter no.1 (3200ºK) yang berwarna kebiru-biruan.

Sumber cahaya yang lebih tinggi intensitas sinarnya mengandung warna biru, sumber cahaya yang intensitas sinarnya rendah lebih mengandung warna merah. Perbedaan warna cahaya ini tergantung pada suhu dan diukur dengan derajad Kelvin.

3. White Balance :
Intensitas cahaya berbeda-beda pada saat yang berbeda dan tempat berbeda dalam sehari. Cahaya matahari di luar (daylight) mempunyai suhu kurang lebih 5600ºK, cahaya bohlam di dalam ruangan mempunyai suhu kurang lebih 3200ºK, cahaya lampu TL mempunyai suhu antara 5000ºK-6000ºK. karena intensitas cahaya sangat berbeda maka filter koreksi warna tidak bisa menghasilkan warna putih yang tepat. Maka dari itu kamera video juga dilengkapi dengan tombol untuk menyetel white balance. Cara termudah untuk white balance adalah dengan mengarahkan kamera terhadap benda putih apa saja yang berada dalam kondisi cahaya yang sama dengan cahaya yang kita pergunakan untuk merekam adegan.

Cara menyetel white balance:

  • Pertama cocokkan filter koreksi warna dengan kondisi cahaya yang kita pakai shoting.
  • Arahkan kamera terhadap benda putih apa saja
  • Kamera di zoom sampai yang terlihat di viewfinder hanya warna putih
  • Tekan tombol AWB (Auto White Balance)
  • Kamera siap untuk merekam.
Catatan: kamera harus di white balance lagi apabila keadaan cahaya berubah.
Bagi para cameraman profesional sering juga melakukan white balance dengan cara manual yaitu dengan mengatur Colour Temperature pada menu di kamera.

4. Zoom :
Zooming adalah gerakan lensa zoom mendekati atau menjauhi objek secara optik, dengan mengubah panjang fokal lensa dari sudut pandang sempit (telephoto) ke sudut lebar (wide angle).

Zoom in : mendekatkan objek dari long shot ke close up
Zoom out : menjauhkan objek dari close up ke long shot.

Zooming bisa dilakukan dengan dua cara yaitu :

- Manual : dengan memutar ring zoom pada lensa

- Servo : Biasanya tombol zoom servo ada pada handle camera sehingga terjangkau jari pada waktu mengoperasikan kamera


5. FOKUS :
Fokus adalah pengaturan lensa yang tepat untuk jarak tertentu. Gambar dikatakan fokus apabila proyeksi gambar yang dihasilkan oleh lensa jatuh di permukaan tabung atau CCD jelas dan tajam. Sehingga nampak juga di viewfinder dan monitor.

depth of field atau bidang kedalaman adalah bidang dimana objek-objek di depan dan di belakang objek utama tampak dalam fokus.

Secara teknis, shot dengan bidang kedalaman yang luas memudahkan cameraman mengikuti gerakan objek. Bidang kedalaman yang sempit mengharuskan kita untuk terus menerus follow focus apabila kamera atau objek bergerak.

Secara estetis depth of field sangat berperan dalam menciptakan perspektif visual pada keseluruhan adegan (shot).

6. Audio Levels
Jangan abaikan audio level pada kamera karena selain kualitas gambar, kualitas audio juga tidak kalah pentingnya. Ingat Televisi adalah gabungan antara gambar dan suara. Ada gambar tanpa audio yang bagus akan sangat mengganggu pemirsa bahkan informasi yang akan disampaikan tidak sampai kepada penonton.
Atur audio level jangan sampai under ataupun over (peak).

Wah kayanya teori melulu ya jadi pusing…
tapi ini penting buat semua yang mau belajar mengoperasikan kamera video secara benar.
Mengoperasikan kamera adalah seni, jadi dibutuhkan taste dari setiap cameraman



Sumber : http://azie-zp.blogspot.com


Justin Bieber Dicegat Paparazzi Gila




 Memang tidak heran jika segala hal tentang artis sekaliber Justin Bieber menjadi incaran publik. Namun yang yang dilakukan oleh pria yang satu ini memang benar-benar gila. Demi mendapatkan gambar terbaik Justin, paparazzi ini nekat menghadang dan menghalangi jalan Justin.
Alhasil, Justin yang saat itu dalam perjalanan meninggalkan bandara internasional Los Angeles itu pun kebingungan dengan ulah si fotografer. Untungnya, ada bodyguard yang segera turun tangan dan berusaha menyingkirkan pria yang diketahui bernama Alex Portillo tersebut.
Namun seperti dilansir dari E! Online, fotografer ini rupanya tidak menyerah begitu saja. Dia nekat melawan dan menyerang bodyguard yang mengusirnya, sehingga perkelahian pun tak bisa dihindari lagi. Untungnya, kejadian itu dapat teratasi setelah polisi datang dan mengamankan fotografer tersebut.
"Hari ini, kira-kira jam 2.15 siang, polisi Los Angeles Airport memang mengamankan insiden yang terjadi di Terminal 4 bagian kedatangan, yang melibatkan Justin Bieber. Hasil investigasi mengungkapkan bahwa memang ada perkelahian antara bodyguard yang tak diketahui namanya (korban) dan seorang fotografer di lokasi tersebut," ungkap saksi mata yang juga polisi Los Angeles Airport.
Pasca kejadian itu, fotografer tersebut telah diamankan dan diperiksa. Pria berusia 20 tahun tersebut dinyatakan bersalah dalam insiden tersebut dan dinilai telah menyebabkan keresahan di lokasi kejadian. Karenanya, dia pun dikirim ke LAPD Pacific Division Jail untuk menjalani proses selanjutnya. (eol/ris)

Duh! Paripurna DPR Molor 1,5 Jam Gara-gara Belum Kuorum


Jakarta - DPR kembali menggelar sidang paripurna. Namun sidang molor 1,5 jam gara-gara penyakit kronis wakil rakyat, jumlahnya belum mencapai kuorum.

Paripurna direncanakan digelar pukul 09.00 WIB. Sidang dipimpin Priyo Budi Santoso. Priyo sudah datang dan berada di ruang tunggu pimpinan, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (7/2/2012).

Pantauan detikcom sekitar pukul 10.30 WIB, hanya ada 261 anggota DPR yang mengisi absen dari 560 anggota. Jumlah itu belum kuorum untuk memulai sidang paripurna.

Untuk mencapai kuorum sidang harus dihadiri sekurangnya 281 anggota. Rincian anggota DPR yang sudah hadir yakni dari Fraksi Partai Demokrat 68 orang, Fraksi Partai Golkar 54 orang, Fraksi PDIP 47 orang, Fraksi PKS 35 orang, Fraksi PAN 20 orang, Fraksi PPP 15 orang, Fraksi PKB 6 orang, Fraksi Gerindra 7 orang, dan Fraksi Hanura 9 orang. 

Agenda sidang kali ini yakni laporan Komisi III mengenai hasil pembahasan terhadap calon anggota LPSK pengganti dilanjutkan pengambilan keputusan dan penetapan badan pengusahaan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas Batam sebagai mitra kerja Komisi VI DPR RI.

Beberapa anggota DPR yang terlihat hadir antara lain Saan Mustopa, Sutan Bhatoegana, Max Sopacua. Sedangkan anggota DPR yang beberapa hari belakangan ini banyak dibicarakan publik yakni Angelina Sondakh dan I Wayan Koster, belum terlihat hadir.

Setelah menunggu beberapa lama, sidang dianggap kuorum sehingga dibuka oleh Priyo Budi Santoso.


http://www.detiknews.com/read/2012/02/07/104756/1836020/10/duh-paripurna-dpr-molor-15-jam-gara-gara-belum-kuorum?991101mainnews


Perempuan Ini Mengaku Keperawanannya Direnggut Kennedy


Washington - Seorang perempuan mengaku pernah menjadi kekasih mantan Presiden Amerika Serikat (AS) John F. Kennedy saat dirinya sedang magang bekerja di Gedung Putih. Perempuan yang kini berusia 69 tahun itu menuliskan affairnya itu dalam sebuah buku berjudul 'Once Upon a Secret: My Affair with President John F. Kennedy and Its Aftermath'.

Perempuan yang diketahui bernama Mimi Alford menceritakan kesedihan Kennedy saat kematian anaknya yang baru saja lahir. Dirinya dipanggil untuk mendengar cerita tersebut dan saat itu terjadi krisis rudal Kuba. "Saya lebih memililih anak saya menjadi seorang komunis dari pada meninggal," kata Kennedy saat itu kepada Alford.

Seperti diberitakan AFP, Selasa (7/2/2012), Alford menceritakan secara rinci hubungan mereka yang dimulai pada musim panas di tahun 1962. Saat itu Alford berusia 19 tahun, lebih dari setengah umur Kennedy saat itu dan setahun sebelum Kennedy dibunuh di umur 46 tahun.

Dalam buku tersebut, Alford menulis dirinya bertemu dengan Kennedy hanya empat hari setelah dirinya magang. Kennedy mengundang dirinya di hari berikutnya untuk melakukan tur pribadi di kediaman Gedung Putih termasuk ke kamar tidur Ibu Negara, Jackie Kennedy.

Alford yang saat ini merupakan pensiunan administrator gereja New York City menulis, bahwa di sanalah, di hari itu dia kehilangan keperawanannya oleh Kennedy. "Perlahan, dia membuka kancing bagian atas baju saya dan menyentuh payudara saya," kata Alford.

"Kemudian dia menarik tangan saya di antara kedua kaki saya dan mulai menurunkan celana saya sambil membuka kancing baju saya dan menjatuhkannya di bahu saya. Setelah dia selesai, dia memasang celananya dan tersenyum padaku, sebelum dia menunjuk ke arah kamar mandi," ujar Alford.

"Saya kaget," tulis Alford. "Sementara dia bersikap seolah-olah apa yang baru saja terjadi adalah hal paling alami di dunia," cetusnya.

Affair Kennedy dan Alford berlangsung selama 18 bulan. Selama hubungan mereka, Kennedy diajarkan Alford untuk membuat orak-arik telur dan menghargai musik dari Frank Sinatra hingga Tony Bennett. Meskipun hubungan keduanya intim, namun Alford terus memanggil Kennedy dengan Bapak Presiden. Namun Alford terkadang memanggil Kennedy dengan nama samaran Michael Carter.

Terakhir kali Alford bertemu dengan Kennedy pada tanggal 15 November 1963, seminggu sebelum Kennedy ditembak mati di Dallas. "Aku akan meneleponmu ketika aku kembali," kata Kennedy saat itu kepada Alford. Alford memberitahukan kepada Presiden bahwa dia akan segera menikah. "Saya tahu itu, tapi saya akan meneleponmu," jawab Kennedy.

Random House, yang menerbitkan buku itu, menyatakan bahwa setelah kematian Presiden Kennedy, Alford secara pribadi sangat sedih, dan mengunci rahasianya dan mencoba untuk memulai hidup baru.

http://www.detiknews.com/read/2012/02/07/173909/1836619/1148/perempuan-ini-mengaku-keperawanannya-direnggut-kennedy?9911012